Tampilkan postingan dengan label Stories And Events. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Stories And Events. Tampilkan semua postingan

Rabu, 30 September 2020

Abenk Radio Reborn

 


Ditahun 2020 ini temen-temen yang dulu "ngebrik' di 100 meter (cepek met) berkeinginan untuk "naek" kembali, termasuk Dono (Radio Abenk). Keinginan tersebut didukung lagi dengan dengan didapatkannya warisan komponen-komponen dari eks Alm (Dadang Janda Janda Binal) yang lebih dari cukup, sehingga ditetapkan merakit pemancar AM dengan final 4x807, walaupun masih ada juga tabung-tabung trioda "kelas berat" ribuan volt. Oh yaaa dulu Dono dengan radio Abenknya menyemarakan  siaran di SW,  cukup eksis sehingga banyak sekali fans. Saat itu beberapa radio siaran gelap Bandar Lampung di jalur SW; radio Vodka, Karimata, Billy Jeans, Madona, Valentine dan banyak lagi,  sudah lupa. Setelah era siaran selesai Dono aktif di jalur 2 meteran dan HF SSB. Oleh karena itulah Dono kangen dengan maenan jadul AM tube, lebih asik katanya. 

Dono bengong, puluhan tahun tidak melihat nyala filamen ha ha ha


Dono ikutan ngoprek walau mata udah payah 


Oni Radio Kuno yang rakit, lagi testing


Neon tidak ketinggalan,maklum Dono orang jadul he he


Test pertama, TX masih perlu dikoprek, modulasi masih belum "duduk"




Sabtu, 19 September 2020

Nasib VFO Jadul


Selamat pagi teman-teman, semoga khabarnya sehat selalu, aamiin. Pagi ini berhubung kota Bandar Lampung hujan saya mengalihkan rencana tadinya ingin bersih-bersih halaman rumah menjadi beres-beres rongsokan elektronika. Seperti biasa yang masih bisa digunakan dikumpulkan sehingga jadi rongsokan lagi he he, numpuk lagi. Tidak sengaja saya menemukan PCB dalam plastik kecil, setelah dibuka rupanya PCB VFO yang lumayan banyak.



PCB tersebut saya rancang ketika belum banyak yang menggunakan VFO digital. Pada saat itu perminat AM juga terus meningkat sehingga perlu PCB yang ready. Seingat saya juga ada beberapa yang telah dirakit dan telah test mengunakan beban resistor 50 ohm,  melihat outputnya dengan CRO  dan frekuensi counter Nah ini dia walau ada beberapa komponen yang telah dicopot.



Berdasarkan yang telah dirakit saya mencoba mengambarkan skemanya, waktu itu VFO dirancang dengan output 300 mW dengan beban 50 ohm. Ide dari rangkaian ini adalah meningkatkan stabilitas  dan power output VFO sebelumnya, maka bagian depan ditetapkan menggunakan FET, penguat menggunakan C829. FET yang saya gunakan 2N3819, saya pilih karena masih ori dan itu saya punya beberapa buah. Untuk rangkaian penala dapat menggunakan yang paralel tuning atau seri tuning pada skema tidak digambarkan, teman-teman bisa googling. Bagian penguat terdiri dari satu tingkat FET dan berikutnya transistor  C829 dilengkapi dengan matching 50 ohm, yang saya adaptasi dari buku radio amatir Amerika.


Skema ini telah di aplikasikan di pemancar Bang Undur-undur, Bang Ranto dan terakhir Bang Udin Molina tetapi dengan mengubah kembali bagian depan ke konfigurasi awal dengan C829 karena sepertinya kurang kokoh untuk modulasi AM.

Demikian cerita VFO jadul, saat ini saya lebih meringankan pekerjaan dengan menerapan DDS yang sudah jadi. Bagi teman-teman yang baru mulai atau ingin mencoba PCB VFO jadul  silahkan saja gratis.




Senin, 13 Mei 2013

Saburai Ham Festival V

Setelah dua tahun menghidupkan kembali AM 80 meter Lampung, tibalah saatnya kami "unjuk gigi" mengikuti Saburai Ham Festival V yang diadakan 24-25 Maret 2012 di Pasar Seni Enggal Bandar Lampung. Pada hari pertama saya tidak bisa hadir, bangga rasanya menurut cerita dihari itu anjungan kami  ramai dikunjungi rekan-rekan breaker dalam dan luar daerah. Pada hari kedua saya hadir, ramai juga sehingga kami merubah posisi meja agar lebih lapang sehingga pengunjung nyaman bernoastagia.



Boss ORARI Lampung Bp. Syahrazad. ZP





Rekan-rekan dalam dan luar Lampung






SSB Generator challenge

 
Foto by Ismet

Jumat, 22 Februari 2013

Hobi Mendengarkan Radio

Mungkin saat ini mendengarkan radio merupakan hal yang "aneh", ya sekarang jarang sekali kita melihat orang mendengarkan radio apalagi menenteng radio kecil atau dikalungkan dileher. Suatu hari saya kedatangan teman kuliah di Pasca UGM, dia kaget begitu masuk kamar saya, ini radio ya Pak? saya terakhir melihat radio saat SMP katanya,  orang ini mengejek apa memang kaget. Agar tidak dibilang manusia jadul saya tunjukkan saja koleksi radio-radio saya sambil memberi penjelasan. Memang zaman sudah berubah tapi tidak semestinya  media ini ditinggalkan, masih cukup efektif apalagi wilayah nusantara ini yang luas.

Hobi mendengarkan radio dimulai sejak radio tape stereo merek JVC yang dibeli orang tua saya pada tahun 1982 saat saya kelas 5 SD seharga Rp 30.000 diizinkan masuk kamar tidur. Radio tape ini termasuk sangat modern  didukung dengan desainya OK dan warna silver. Sejak saat ini musik dan berita menjadi bagian hidupku. Dari mendengarkan radio ini pula saya mengenal ngebrik dan elektronik khusunya pemancar. Keberadaan radio ini  sampai kelas 2 STM karena dibawa ke Yogya oleh kakak saya, selanjutnya itu tape deck dan radio kecil yang menemani saya.

Zaman keemasan radio puncaknya saat sandiwara radio "mewabah", tokoh-tokoh seperti Brama Kumbara, Mantili, Kakek Jabat, Sasongko siapa lagi ya? sudah lupa, selalu ditunggu-tunggu. Sebelumnya telah ada sandiwara radio di RRI butir-butir pasir dilaut, tapi agak membosankan episodenya banyak sekali. Kalau berita jangan ditanya, saat itu seluruh stasiun swasta wajib menyiarkan berita RRI  hampir setiap jam. Tidak ketinggalan juga saya mendengarkan BBC terutama program teknologi. Hobi mendengarkan radio terus berlanjut, saat kuliah perlengkapan tape radio FM dan radio kecil SW wajib ada, radio kecil SW untuk mendengarkan siaran BBC, RANESI, VOA, MOSKOW, ABC dan teman-teman yang ngebrik di 80 meter band.

Mendengarkan radio telah "mendarah daging", hampir di tempat-tempat tertentu ada radio termasuk di kantor. Saat inipun selagi saya kuliah pasca sarjana radio menjadi syarat, setelah saya mendapatkan kamar kost selanjutnya "berburu" radio, kenapa berburu? ya radio yang diinginkan susah didapat. Radio di meja untuk mendengarkan siaran FM biasanya saya mendengarkan RRI dan salah satu stasiun yang programnya musik jazz dan lagu-lagu lama. Radio di ranjang utnuk mendengarkan siaran luar negeri dan teman-teman ngebrik.




Ada yang menarik saat saya pulang kampung dua minggu yang lalu, istri saya juga sudah  mulai mendengarkan radio yang sebelumnya cuek aja. Sambil masak, beres-beres rumah diiringi siaran radio, tapi seleranya stasium yang "heboh", anak muda, seperti OZ FM dan Andalas FM. Tidak ketinggalan anak saya yang kelas 2 SD, suatu ketika dia menunjukkan tugas sekolah diminta untuk menuliskan nama-nama benda, Paa.... betul gak ini kan radio? anak saya bertanya, betul jawab saya mantap sambil membatin bagus anak saya sudah  kenal radio. Mungkinkah kah radio akan hilang seiring perkembangan zaman?


  


Sabtu, 05 Januari 2013

Meramaikan AM 80 Meter

Setelah menghidupkan pemancar Imek yang satu-satunya breaaker AM di Bandar Lampung, saya kembali bergrilya mengunjungi rekan-rekan eks breaker 100 meter. Target pertama adalah breaker yunior saat era 100 meter selanjutnya breaker senior. Suatu hari setelah pulang kerja saya mengunjungi Mirza beaker 100 meter yang saat itu terkenal yang selalu minta report karena pemancarnya  terlalu sering direpair (dikoprek) tapi selalu brooming. Sampai di rumah Mirza saya menceritakan maksud kadatangan saya, lagi-lagi pertanyaan yang muncul mengganggu TV nggak ? sayapun menjelaskan panjang lebar. Mirza sangat merespon dan sangat mendukung. Setelah mengobrol "ngalor ngidul" sambil minum kopi sayapun pamit pulang karena hari sudah sore.

Malam harinya saya mendapat telepon dari Mirza yang mengajak untuk berkunjung ke kediaman Nawawi bersama Ismet, ternyata Mirza telah menghubungi Ismet rekan breaker era 100 meter juga. Kami bertiga berangkat ke kediaman Nawawi di Natar Lampung selatan, sampai disana sudah menunggu Nawawi dengan satu rekan lagi namanya Oni kamipun berkenalan. Oni sedang utak-atik PCB  pemancar AM 80 meter, sepertinya baru akan membuat pemancar. Suasana semakin asyik bernostagia lagi saat ngebrik di 100 meter, tetapi Oni masih malu-malu untuk ngobrol, maklum baru kenal. 

Singkat cerita, saya mencoba membangun komunikasi dengan Oni, ternyata beliau termasuk breaker satu angkatan dulu tinggal Talang Padang Lampung Selatan. Oni berhasil merakit pemancar dengan desainya sendiri, terakhir beliau telah merakit pemancar tabung. Saya dan Oni semakin akrab karena hobi yang sama, sehingga perjuangan untuk meramaikan AM 80 mendapat tambahan energi, kami berduet mengunjungi rekan-rekan breaker senior. Satu rekan spesial pemancar tabung Hendra Vodca berhasil kami ajak untuk ngebrik kembali, dalam waktu singkat dia telah merakit pemancar tabung dengan sisa-sisa komponen yang dimiliki.

Hendra Vodca

Di era 100 meter Hendra juga siaran "gelap" di SW dengan radio Vodca-nya, sangat banyak fansnya sampai kota-kota kabupaten. Bersama Hendra Vodca kami terus berlanjut menghubungi rekan-rekan breaker lama, menjumpai Aan pemancar tabungnya masih ada siap untuk ngebrik kembali, menjumpai Dedi Bily Jean yang dulu siaran "gelap" juga tapi tidak bisa ngebrik kembali pemancarnya ada di atas plafond rumahnya, Yori juga ingin ngebrik kembali. Pemancar Yori sungguh tragis ditemukan di belakang rumah lamanya telah ditutupi oleh tumbuhan menjalar, syukur ditutupi tumbuhan menjalar ini kalau tidak sudah diambil tukang rongsok.

Pemancar Aan


Pemancar Yori

 Dari kiri; Mirza, Hendra,Yori, Nurharis, Ismet, Nawawi, Imam, Jamal, Oni,
saat Idul Fitri 2011

Rasanya sudah cukup perjuangan kami menghidupkan dan meramaikan AM 80 meter Bandar Lampung, diharapkan terus berkembang. Karena sesuatu hal harus keluar daerah selama dua tahun mendatang, pemancar tabung saya titipkan ke Sugriwo breaker dari Jawa yang telah menetap di Bandar Lampung, karena merasa cocok akhirnya pemancar tersebut dibayarin olehnya. Sampai saat ini saya belum sempat merakit pemancar milik sendiri lagi, mudah-mudahan dua tahun mendatang masih ada yang ngebrik.

Foto by Oni dan Ismet

Selasa, 01 Januari 2013

Memburu Radio lawas Di Pasar Klitikan Yogyakarta

Pasar Klitikan Pakuncen Yogyakarta boleh dikatakan surganya bagi penggemar barang lawas walaupun belum begitu banyak penjual yang menyediakan barang lawas elektronik. Barang-barang era kini juga tersedia seperti phone cell, spare parts motor mobil, pakaian sampai asesoris yang berada di lantai dasar bagian belakang dan lantai dua. Untuk barang-barang lawas terletak di lantai satu (dasar) bagian depan,   kios favorit saya terletak di pojok kiri.

Pasar Klitikan Pakuncen ini sebelumnya berada di jalan Mangkubumi, masih tradisional dengan lapak-lapak dagangan berjejer di depan toko-toko, tentu saja ilegal. Sewaktu saya kuliah S1 sering ke sana hampir setiap malam minggu, ramai sekali sehingga memacetkan lalu lintas, sampai saat ini pun pasar Klitikan Pakuncen sangat ramai pada malam hari. Penjual barang lawas biasanya tutup pada siang hari karena harus mencari barang lawas ke berbagai daerah.


Sebagai penggemar pemancar dan radio lawas tentunya barang-barang yang saya cari adalah radio, komponen-komponen dan asesoris elektronik lawas. Biasanya saya setiap awal bulan ke pasar Klitikan Pakuncen hanya sekedar jalan-jalan, kalau beruntung ketemu barang yang kita inginkan. Karena sudah sering ke sana saya sudah kenal baik dengan penjual di kios favorit saya namanya Agung sehingga untuk membeli tidak lagi tawar menawar. Pak Agung memberi harga spesial untuk saya, tentunya saya telah cek harga barang yang saya inginkan di google. Ada trik yang sebelumnya saya lakukan, kalau saya menawar tetapi belum dikasih oleh penjual, saya tetap bertahan dan meninggalkannya. Beberapa hari kemudian balik lagi, biasanya harganya turun, ya karena penjual tersebut bukanlah pemilik modal yang besar, butuh perputaran,  jadi untung sedikit sudah cukup bagi mereka.

Senin, 24 Desember 2012

Red Telesonic Radio

Mendengarkan radio adalah satu-satunya hiburan  sampai dengan tahun 1978 saat saya sebelum masuk Sekolah Dasar (SD) dan satu-satunya peralatan elektronik yang kami miliki. Radio itu mereknya Telesonic warna bodinya  merah. Radio itu diletkakan di atas lemari pendek di ruang keluarga, antenanya diberi kawat tambahan diuntir-untir kemudian diikatkan diplafon rumah kami.  Saat itu belum ada listrik, jadi untuk penerangan malam hari menggunakan lampu minyak patromak, supaya Telesnonic merah dapat bersuara maka diberi sumber daya battray.

Waktu-waktu mendengarkan radio seingat saya pada pagi hari, siang hari, dan malam hari. Biasanya sebagai pendengar setia dan operator adalah Uwak (kakak bapak), kami memanggilnya WakNgah. Pagi subuh dan malam di band SW mendengarkan siaran berita luar negeri,   masih terngiang-ngiang ditelinga adalah radio Australia berbahasa Indonesia dengan suara pembukaan siaran seperti  suara burung bersahutan. WakNgah mengerti bahasa Belanda, Inggris dan Jepang, jadi siaran-siaran berbahasa  tersebut didengarkannya juga. Kalau siang mendengarkan sandiwara radio butir-butir pasir di laut di Radio Republik Indonesia (RRI) yang episodenya banyak sekali.


Sekarang, disaat saya gemar mengoleksi radio transistor, timbul rasa kangen dengan radio transistor Telesonic merah   dan ingin memiliki kembali. Setiap hari kalau ada kesempatan browsing di internet kalau ada kolektor radio transistor yang ingin menjualnya, kalaupun ada sudah terjual. Pada saat saya kuliah S1 di Yogyakarta memang sudah mendapatkannya tapi warnanya biru,  radio transistor Telesonic  warna merah yang saya inginkan. Saat ini  saya sedang studi di Pasca Sarjana Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta tempat  yang tepat untuk mencari radio.  Kenapa saya ngotot ingin memilikinya kembali? Karena pada saat saya belajar membuat pemancar AM saat kelas satu Sekolah Menengah Pertama (SMP) radio tersebut komponen-komponenya saya donorkan, sedangkan bodinya dibuang.

Sabtu, 22 Desember 2012

Pemancar Tabung AM 80 Meter Pertama

Tidak puas dengan kemampuan pemancar transistor AM 80 meter dengan final D313, saat kelas dua STM tahun 1990 saya mencoba merakit pemancar tabung. Sampai saat itu pemancar tabung masih mendominasi di Tanjung Karang,  sehingga pemancar transistor merasa tersingkirkan. Berbekal sebuah buku panduan yang terdapat skema pemancar tabung, tabung EL84 untuk osilator, 6L6 untuk final dapat dikasih teman serta sebuah radio tabung merek Mende buatan Jerman yang masih hidup didonorkan (sekarang menyesal), pemancar siap dirakit.

Perakitan dilaksanakan di rumah teman breaker senior panggilannya Aci sekaligus bertindak sebagai instruktur bersama Andri teman breaker senior  juga. Perakitan  dilaksanakan pada pagi hari selama beberapa hari mengingat siang hari saya harus sekolah, tapi kadang-kadang juga bolos. Pengerjaan chasis yang memakan waktu agak lama, karena harus membor, mengikir dan mengamplas. Setelah komponen-komponen utama dipasang seperti soket tabung, varco besi dan trafo, dilanjutkan dengan pemasangan dan penyambungan komponen elektronika lainya. Pada pemancar tabung tidak menggunakan PCB jadi dihubungkan dari kaki ke kaki komponen menggunakan terminal strip. Setelah beberapa hari pemancar tabung pertama saya selesai dan siap mengudara, desain rangkaian hanya dua tingkat  tanpa sistem penguat audio linear tabung. Jadi dari output audio amplifier langsung dihubungkan ke trafo madulasi tanpa penguatan, saat itu amplifier audio sistem OCL baru muncul.

Tiba saatnya untuk testing, dini hari setelah selesai siaran TV langsung saya coba untuk memanggil breaker dari pulau jawa, senangnya bukan main saat lawan bicara me-report bagus 59. Inilah pertama kali saya bisa berkomunikasi dengan breaker pulau jawa yang sebelumnya belum pernah menggunakan pemancar D313.

Senin, 17 Desember 2012

Menghidupkan Kembali AM 80 M Band (bagian 2)

Di saat akan menghadapi UAS di Pasca Sarjana UGM saya mencoba untuk menulis bagian akhir cerita menghidupkan kembali AM 80 M Band di Bandar Lampung. Masih ingat Iman sahabat saya? untuk menyambung silahturahmi, saya bertandang ke kediamannya. Kediaman beliau sudah pindah ke Branti Kabupaten Lampung Selatan, lumayan jauh dari kota Bandar Lampung. Kami bernostalgia kembali cerita ngalor ngidul tentang pengebrikan di "cepe" meter. Saya mencoba menghubung-hubungkan kejadian-kejadian agar memory  kembali mengingatnya. Saya mengingat kembali masih menyimpan beberapa foto kegiatan seperti pawai 17 agustus dan Lomba Lintas Alam   Bukit Barisan (LABB) III. Banyak teman-teman yang sulit diingat kembali, mengingat pada era itu "breaker" cepe meter Tanjung Karang Teluk Betung (sekarang Bandar Lampung) banyak jumlahnya.

Sahabat saya Imam menceritakan pada suatu malam ada breaker baru muncul dari Bandar Lampung namanya Imek dan beliau titip salam buat saya sekaligus memberikan nomor teleponnya. Sayapun mencoba mengingatnya, siapa dia? kok kenal saya, padahal saya tidak mengenalnya. Memory saya tidak mampu mengingatnya kembali, kelak akan saya telepon dan buat janji untuk pertemuan. Sudah lelah banyak cerita kami memutuskan untuk mengunjungi senior kami Pak Nawawi yang kebetulan hanya berjarak 10 km dari kediaman Imam. Sesampainya di kediaman Pak Nawawi, sayapun kaget melihat keadaan pisik yang gemuk seperti boss dan ekonomi yang sangat berubah,  saya tidak sadar bahwa lebih dari 20 tahun kami tidak bertemu. Kembali bernostalgia dan melihat-lihat perangkat ngebrik Pak Nawawi, sayapun mulai tergerak untuk kembali ngebrik.  Setelah sholat magrib kamipun pamitan dengan perasaan ingin cepat-cepat bergelut dengan komponen elektronika, mencium bau timah solder dan berburu komponen lawas di loakan dan merealisaikan pemancar.

Hari-hari berlalu saya berkesempatan menelpon rekan saya Imek yang terlupakan, setelah mendapat alamat langsung meluncur ke sana. Sampai di rumahnya, saya masih belum juga mengingatnya, sambil mengobrol saya coba lagi untuk menghubung-hubungkan kegiatan masa lalu, satu kata kunci muncul nama breaker juga Jahidin, oh ya saya baru ingat. Saya beberapa kali kerumah Imek dengan Jahidin menggunakan motor L2 super miliknya.


Tidak afdol kalau berkunjung ke rumah breaker tanpa melihat pemancarnya, betapa kagetnya saya, masih menggunakan pemancar transistor era 80-an dengan final D313. Sampai sejauh mana ngebriknya dengan kondisi banyak gangguan saat ini, akhirnya saya bersedia untuk mengoprek pemancar imek. Skenario pertama menaikan daya pancar dan memodifikasi osilator agar kokoh, skenario kedua membuat pemancar baru dengan final low cost MOSFET, kami pilih keduanya agar dari Bandar Lampung ada wakilnya. Pemancar lama Imek telah telah mengudara sampai pulau kalimantan bahkan Bali, dia satu-satunya breaker AM dari Bandar Lampung. Sambil merakit pemancar baru Imek, saya terus menghubungkan teman-teman untuk ngebrik kembali, walaupun resikonya saya harus membuatkan pemancar. Walaupun hanya satu orang breaker dari Bandar Lampung tetapi sudah cukup untuk menghidupkan kembali AM 80 M Band, yeaaaah AM never die.

Minggu, 16 Desember 2012

Menghidupkan Kembali AM 80 M Band (bagian 1)

Sekitar tiga tahun lalu saya kedatangan sahabat lama sewaktu sekolah di STM 2 Mei Tanjung Karang (Bandar Lampung) namanya Imam. Imam bercerita bahwa masih aktif komunikasi di udara (ngbrik) di jalur 80 meter masih menggunakan pemancar (transmitter/TX) tabung saya hibahkan, hanya final-nya telah diganti dengan 2x6146. Senangnya bernostalgia, dia juga mengatakan Pak Nawawi juga aktif kembali menggunakan TX transistor jenis MOSFET pada final-nya. Singkat cerita, sahabat saya ini ingin mengajak saya untuk meramaikan kembali, tetapi karena lahan yang tidak cukup untuk membentangkan antena sayapun masih ber pikir panjang.

Ngbrik di jalur 80 meter merupakan hobi yang mengasyikan, TX buatan sendiri dan untuk mendengarkan menggunakan radio rumahan seperti national, cawang, dll. Dibutuhkan pengalaman untuk untuk menyerobitkan untuk menyamakan frekuensi lawan bicara. Suara radio seperti cuitan, gemerotokan, desis, dll menjadi nada yang indah didengarkan. Pengebrikan mulai menurun semenjak TPI mengudara pada siang hari menumpang pada TVRI, karena ngbrik hanya bisa dilakukan pada dini hari setelah siaran TV selesai. Lho kok tergantung siaran TV? ya karena kalau kita ngbrik mengganggu siaran TV, maklum saat itu kualitas TX masih rendah dan masih menggunakan antena long wire sehingga sulit mengendalikan kelipatan frekuensinya. Satu lagi yang membuat geleng kepala kalau mengingatnya, yang digunakan untuk ngbrik fekuensinya adalah 3 MHz atau 100 meter, yang dikenal dengan istilah cepe meter.
Pada tahun 1993 setelah berhenti kerja sebagian uang gaji terakhir saya belanjakan TX tabung eks teman yang sudah berhenti ngbrik.  TX tersebut direstorasi dengan final 2x12GB7, sistem sudah lebih baik dan menggunakan antena dua kutub dengan penyalur coaxial, sehinggan tidak mengganggu siaran TV, saya gunakan hanya setahun di jalur 80 meter. Tahun 1994 saya berekperimen TX FM dan mencoba ngbrik sampai TH 1995. Akhir TH 1995 saya berangkat ke Yogyakarta untuk kuliah, selesai TH 2001. Setelah selesai kuliah  sempat mebuat TX dengan final sebuah tabung 807, saya gunakan hanya setahun karena akan menikah. Setelah menikah TX tersebut saya hibahkan ke sahabat saya Imam sedangkan TX 2x12GB7 saya simpan baik-baik.