Tampilkan postingan dengan label Tube Transmitters. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tube Transmitters. Tampilkan semua postingan

Senin, 10 Oktober 2022

Up-grade Menjadi Tranceiver

Setelah up-grade menggunakan DDS tahun 2020, pada 2022 up-grade kembali ke Tranceiver milik Sugriwo alias Walidi.










Jumat, 25 Juni 2021

Up date TX Bpk Imek 2021

 

Setelah pemakaian lebih dari lima tahun serta sudah sulitnya untuk kontak dengan rekan rekan lokal karena tingginya interferen, Bpk Imek memutuskan untuk membesarkan daya pancar  TX nya. Klik disini perakitan TX Imek TH 2015.  Penambahan daya hanya menambahkan satu tube 6146  yang sebelumnya 2 tube menjadi 3 tube, keinginannya 4 tetapi satu tube rusak. 


Penambahan satu tube akan mengubah tegangangan screen dan driving power (exitasi). Dengan  3 tube Ig menjadi sekitar 3x4 mA=12 mA dan  I screen 3x12 mA= 36 mA. Untuk mendapatkan Ig 12 mA dengan meningkatkan (menurunkan nilai resistor) tegangan screen driver tube 6V6. Untuk menentukan nilai resistor screen final mudahnya dengan melihat data tube 6146, dengan Va 600 V, R screen 37 kOhm sehingga untuk 3 tube; 37k/3= 12,33 k Ohm, atau dengan cara mengitung jatuh tegangan di screen; Va-Vscreen/Iscreen = 6000-150=450, 450/0,036 = 12 k Ohm. Untuk daya resistornya= 450x0,036= 16,2 watt dipilih 20 watt. Catatan: jangan memberikan eksitasi ke final melebihi data karena kanan meningkatkan arus screen/menurunkan tegangan screen


Ok sudah selesai, saaat dicoba ketika posisi st-by terjadi lompatan api pada kontak relay pemutus tegangan  tube final, maka diputuskan memasang relay bias sekaligus proteksi, yaitu saat st-by, grid mendapat teganan bias -100 V dan saat on air -85 V. Dengan 3 tube 6146  tua dapat diload 200 mA lebih pada antena V terbalik  balun 1:1, lumayan.








Sabtu, 07 November 2020

FINISHING RADIO ABENK (lanjutan)

 Salam jumpa AMers khusunya tube lover

Pada kesempatan ini saya berbagi finishing radio Abenk. Postingan sebelumya masih terdapat masalah,  audio (informasi) belum "duduk" di carrier (gelombang pembawa) sehingga pada penerimaan teman-teman DX sulit untuk dicerna audionya, yaaah audio berada di sisi upper dan lower sedangkan di center  rusak. Pemancar Abenk yang rakit saya dan Oni Radio Kuno, saya mengegerjakan osilator sampai driver, final jatahnya Oni, jadi ketidak sesuaian bisa terjadi, Bang Oni gak mau utak atik selain final ha ha.  Maklumlah pada tahap awal tersebut ada berbagai komponen yang belum fix dan pengukuran-pengukuran belum final.

OK, mari kita mulai.....

Sudah saya prediksi, pemancar dengan banyak tingkat dengan komponen-komponen bekas (seadanya) berpotensi ada masalah, perlu  penyesuaian-penyesuaian. Saya mulai dengan mengganti kapasitor feedback osilator dengan silver mika nilainya 530 PF. Kemudian saya jalankan osilator dan mengukur output dengan frequency counter, hasilnya lumayan, dalam 1,5 menit tidak terjadi pergeseran di 1 kHz.


Selanjutnya bagian buffer, saya terapkan kelas A dengan kombinasi bias katoda dan R grid.  Kemudian jalankan osilator-buffer, mengukur output apakah ada pergeseran frekueansi, alhamdulilah no problem.


Berlanjut ke bagian driver, saya ukur resonasi dengan frequency counter sambil osilator-buffer dijalankan ternyata bergeser frekuensi lebih dari 1 kHz, nah ini dia penyakitnya he he. Karena lilitan resonansi sudah diberi tap saya cari-cari dimana titik yang beresonansi sesuai osilaotr. Nah......ketemu, tapi tidak bisa persis sama dengan osilator, pada resonansinya  terjadi perbedaan sekita 500 hz, saya pikir oklah gak papa, harap maklum ha ha.

Bagian final gak masalah, saya hanya mengubah power driving saja dengan R grid (dibuat Oni automatic bias) 5,7 k  dan bias -90 maka arus grid sekitar 15 mA, lumayanlah untuk 4x807 bekas. Selesai....., saya coba contack denga teman-teman lokal, alhamdulillah oke.

Setelah dipancarkan dari rumah Dono (radio Abenk), alhamdulilah teman teman DX belum ada yang mengeluh dengan modulasinya, Contack dengan temen teman jawa barat, sumatra selatan, Banka Belitung, lancar jaya, yang lumayan jauh temen-temen dari Jawa Tengah dan Timur seperti Pak Tulus, Firma dll. Berikut ini  skemanya, tetapi beberapa nilai komponen lupa dan lilita perlu eksperiman tergantung kapasistas varco.


Terrima kasih

Salam 73






Rabu, 30 September 2020

Abenk Radio Reborn

 


Ditahun 2020 ini temen-temen yang dulu "ngebrik' di 100 meter (cepek met) berkeinginan untuk "naek" kembali, termasuk Dono (Radio Abenk). Keinginan tersebut didukung lagi dengan dengan didapatkannya warisan komponen-komponen dari eks Alm (Dadang Janda Janda Binal) yang lebih dari cukup, sehingga ditetapkan merakit pemancar AM dengan final 4x807, walaupun masih ada juga tabung-tabung trioda "kelas berat" ribuan volt. Oh yaaa dulu Dono dengan radio Abenknya menyemarakan  siaran di SW,  cukup eksis sehingga banyak sekali fans. Saat itu beberapa radio siaran gelap Bandar Lampung di jalur SW; radio Vodka, Karimata, Billy Jeans, Madona, Valentine dan banyak lagi,  sudah lupa. Setelah era siaran selesai Dono aktif di jalur 2 meteran dan HF SSB. Oleh karena itulah Dono kangen dengan maenan jadul AM tube, lebih asik katanya. 

Dono bengong, puluhan tahun tidak melihat nyala filamen ha ha ha


Dono ikutan ngoprek walau mata udah payah 


Oni Radio Kuno yang rakit, lagi testing


Neon tidak ketinggalan,maklum Dono orang jadul he he


Test pertama, TX masih perlu dikoprek, modulasi masih belum "duduk"




Selasa, 15 September 2020

Up-grade Pemancar Tabung Sugriwo

Jumpa lagi setelah sekian lama absen, mudah-mudahan pada sehat,  Alhamdulillah sekarang saya memilik waktu walaupun sedikit untuk menggeluti kembali hobi utak atik maenan jadul pemancar AM serta mendokumentasikan di blog ini.

Bersama teman-teman lokal Lampung khususnya kota Bandar Lampung meninginkan kembali untuk aktif kembali di dunia pengebrikan AM, maka  mengajak kembali Bapak Sugriwo atau Walidi yang kebetulan pemancarnya masih utuh hanya perlu dikoprek sedikit saja he he he. Setelah menemui Bapak Sugriwo ternyata beliau minta sekalian di tambah DDS. Kebetulan saya menyimpan DDS buatan Pak Dian Bandung yang belum sempat saya pergunakan, tetapi DDS belum dilengkapi dengan PTT. Berhubung  kurang aktif di FB saya menghubungi Bang Oni Radio Kuno untuk order DDS buatan Adiba versi terbaru.

Singkat cerita, DDS saya tambahkan buffer dua tingkat kemudian saya suntikan ke driver 6V6 TX tabung (sebelumnya 6L6). Penguat pertama menggunakan transistor C1957 kemudian tingkat kedua mengunakan mosfet IRF 510. Berikut ini hasil utak atik hingga bisa terbang he he.


 Bersama Imam Branti Lampung Selatan direkam oleh Udin Tanjung Karang Pusat












   

Kamis, 06 Agustus 2015

Pemancar AM 80 meter "Milik Sendiri"

Proyek ini sudah lama saya rencanakan sejak tahun 2012, mengingat sampai saat ini saya belum memiliki pemancar maka segala bentuk reapair atau pembuatan untuk orang lain dihentikan sementara. Proyek ini bahkan menjadi suatu balas dendam karena sewaktu STM sekitar tahun 1989 belum dapat merakit pemancar tabung berikut modulatornya karena masalah keuangan, maklumlah masih anak sekolahan.

Proyek dumulai awal Agustus 2015, diawali dengan mempersiapkam chasis dan menentukan tata letak  komponen. Untuk chasis saya rencanakan untuk pemancar dan power supply terpisah, beruntung saya mendapatkan alumunium cukup tebal dari bekas box radio channel SSB Iconav.




Bersambung................

Sabtu, 21 Februari 2015

Project TX AM 80 Meter "Di Tanjakan Terakhir"

Hai ... sobat apa khabar?, sorry, sekarang baru bisa posting lagi dikarenakan harus menyelesaikan tesis  saya.  Di sela-sela kesibukan menyelesaikan tesis, saya menyempatkan merakit TX AM 80 meter untuk rekan Imex (YD4XEM), salah satu AMers Lampung yamg sangat konsisten di 80 meter, kalau dulu 100 meter he he he. Rekan Imex mengajukan syarat harus lebih besar dayanya dari TX transistor yang dia pakai sekarang dengan final low cost mosfet dan bisa "ngobrol" dengan bebek (SSB).  Beliau menginginkan TX tabung yang bukan hanya sekedar "gengsi" saja tetapi harus bisa "melibas" transistor. Syarat yang pertama mudah merealisasikannya, tetapi yang kedua  membutuhkan perlakuan khusus untuk osilatornya. Sayapun mengajukan syarat juga, cari lampu 6146 minimal dua batang dengan kondisi prima dan butuh biaya lebih untuk osilatornya. Tepat tanggal 1 Muharam (Oktober) 2014 project dimulai dengan pembuatan chasis.



Rencana desain:
- Oscillator 6AQ5, 150 V teregulasi, bagian penentu frekuensi ditutup, filament 6,3 V DC teregulasi.  Oscilator      dipersiapkan juga dapat bekerja di 40 meter.
- Buffer un-tuned 6DK6, 150 V teregulasi, filament 6,3 V DC teregulasi.
- Driver 6V6, 200 V.
- Final 3x6146, 600 V.


Realisasi Dan Ujicoba
Setelah merakit oscillator dan buffer langsung saya coba untuk "ngebeat" SSB di 80 meter dan 40 meter, hasilnya lumayan tidak merubah tone dalam waktu yg agak lama, demikian juga setelah driver dirakit, dengan memutar-mutar tuning driver, tone juga tidak berubah. Kesimpulannya oscillator cukup stabil, sudah lebih dari cukup untuk "ngobrol"dengan SSB. Karena lampu final sudah lama sekali tidak digunakan maka sambil "ngebeat" sekalian memanaskan, memancing elektron-elektron agar keluar he he he.

Power supply 6,3 V DC reg, 200 V dan 600 V DC un-reg



Osc 80 dan 40 meter

Sampai driver

Perakitan bagian final sekalian menguji kondisi lampu 6146 dengan memberikan eksitasi dan mengukur arus grid 1, dua lampu masih OK, satu lampu sudah tidak bisa di pakai lagi. Apa boleh buat, hanya dua batang saya rakit tidak lupa dipersiapkan untuk tiga batang. Setelah selesai saya coba dengan dummy load, maklum saya tidak punya antena he he he, mantab, bisa di load sampai 200 mA. 

Keesokan harinya TX  dibawa ke rumah Imex, langsung coba calling, pada kondisi matching-nya tetap diload 200 mA. Kebetulan malem itu Mirza anak bujang (YC 4 SPB) bergabung pake SSB, tidak masalah dapat berkomunikasi dengan baik. Selesailah project TX "di tanjakan terakhir" studi saya, besoknya saya berangkat ke Yogya untuk melanjutkan tesis.



Realisasi tampak bawah

Realisasi tampak atas, 2x6146

Senin, 29 April 2013

Pemancar AM 2x6146

Pemancar ini dirakit tahun 1993 saya gunakan hanya satu tahun, kemudian direstorasi tahun 2011. Walaupun sayang untuk melepasnya, pertengahan 2012 pemancar ini telah "berpindah tangan"  ke Sugriwo (Walidi) lokal Tanjung Karang Timur demi meramaikan AM 80 meter band Lampung . 

Empat hari yang lalu saya "ngoprek" mengganti trafo power supply seperti aslinya dulu hanya menggunakan sebuah trafo, kesempatan ini saya gunakan untuk mengambil gambarnya. Berikut adalah desainnya awalnya, skema tidak begitu lengkap.

 Bagian power supply


Bagian  power supply fixed bias


Bagian osilator dan buffer


Bagian Final


Untuk kekuatan dayanya pemancar ini tidak begitu besar, maklum kondisi tabung hanya tinggal 50%. Pada frekuensi matching-nya hanya dapat di load 120 mA, saat di modulir sampai 180 mA. Kesetabilan frekuensi pemancar ini cukup baik, untuk komunikasi dengan SSB tidak bermasalah.






Sugriwo (Walidi) in action